Patungan untuk Mewujudkan Jakarta yang Bebas Banjir

 

Ketika berdiskusi tentang isu lingkungan di Kota Jakarta, hal-hal seperti banjir, tanah longsor, dan kenaikan muka air laut merupakan beberapa topik yang cukup hangat untuk dibahas. Terlebih, terkait dengan permasalahan banjir.
 
Masalah banjir merupakan masalah yang serius di Kota Jakarta. Secara rutin, banjir terjadi di Jakarta pada 1996, 2002, 2007, dan 2014. Salah satu banjir yang cukup serius melanda kota Jakarta terjadi pada 2007. Hujan lebat yang mengguyur Jakarta di sore hari tanggal 1 Februari sampai keesokan harinya menimbulkan kerugian korban jiwa sebanyak 48 orang, hanya di wilayah provinsi DKI Jakarta.
 
Berbagai permasalahan turut melatarbelakangi persoalan banjir di Jakarta. Misalnya, kebiasaan warga membuang sampah di sungai, pendangkalan sungai, alih fungsi lahan yang mengurangi daerah resapan air serta curah hujan yang diatas rata-rata. Terlebih lagi, permasalahan banjir di Jakarta juga merupakan permasalahan lintas daerah, melibatkan daerah hulu dan hilir sungai sehingga memperumit aksi penanganan banjir.
 
Saat ini, banjir belum sepenuhnya teratasi. Banjir masih menjadi salah satu ancaman keselamatan warga yang memiliki dampak lainnya seperti penyakit atau kerusakan sarana dan prasarana. Namun, kebijakan pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menghadapi banjir mulai menunjukkan hasil yang positif. Dibawah kepemimpinan Ahok-Djarot, ancaman banjir bagi warga DKI cenderung menurun. Hal ini dapat dilihat dari berkurangnya jumlah kasus banjir di DKI tahun ini dibandingkan dengan tahun 2015 yang lalu.  Ahok-Djarot berhasil memberdayakan masyarakat melalui Pekerja Penanganan Sarana dan Prasarana Umum (PPSU) yang menurut informasi dari Jakarta Smart City jumlahnya sudah sebanyak 39.000 orang.

Upaya lainnya untuk penguatan infrastruktur juga dilakukan melalui pembebasan lahan untuk pembangunan waduk serta daerah resapan. Ada juga normalisasi sungai sepanjang 30.679 meter, pembangunan sheetpile sepanjang 35.448 meter, pembangunan tanggul sehingga lebih siap menghadapi curah hujan yang lebih tinggi, penyiapan pompa air, serta upaya peningkatan partisipasi masyarakat melalui aplikasi Qlue dan petajakarta.org untuk mempercepat deteksi titik banjir. Semua hal itu menjadi jawaban atas komitmen Ahok-Djarot dalam mewujudkan Jakarta yang bebas banjir. Hasilnya, Ahok-Djarot telah membereskan 2/3 titik banjir di Jakarta.
 
Tidak dapat dipungkiri bahwa Ahok-Djarot telah berhasil memperkuat ketahanan kota Jakarta dalam menghadapi banjir. Perubahan ini dapat dilanjutkan bila mereka kembali terpilih untuk periode 2017-2022. Oleh karena itu, dukungan masyarakat untuk Ahok-Djarot menjadi syarat mutlak dalam meneruskan perubahan yang sudah ada. Warga bisa mendukung Ahok-Djarot melalui patungan dana kampanye. Sehingga, ketika Ahok-Djarot terpilih, Ahok-Djarot pun akuntabel kepada masyarakat Jakarta, yang semuanya telah ikut ambil bagian dalam kemenangan mereka.