Saya Pemuda. Siapa Saya untuk Jakarta?

 

Pilkada DKI Jakarta akan dilaksanakan pada bulan Februari 2017 mendatang. Setiap pasangan calon tengah melaksanakan kampanye dengan gaya masing-masing. Namun, adakah tempat bagi pemuda dalam dinamika politik Jakarta saat ini?

Dalam pesta demokrasi ibukota tahun ini, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mencatat bahwa 10,07% pemilih tergolong dalam pemilih pemula. Angka ini diambil dari total keseluruhan daftar pemilih sementara (DPS) yang berjumlah 7.132.856.

Bahkan jika memperluas rentang umur pemilih dalam usia 17-30 tahun, jumlah pemilih yang termasuk dalam usia pemuda dalam Pilkada DKI kali ini mencapai 28,97%. Dengan angka yang hampir mencapai 30%, potensi pemuda sebagai pemilih dan partisipan aktif dalam politik di DKI Jakarta tidak bisa diabaikan begitu saja,

Dalam laporan UNFPA tahun 2014 yang bertajuk Indonesian Youth in 21st Century, salah satu bentuk partisipasi yang dilirik oleh pemuda adalah hak untuk memilih dan juga kegaitan kerelawanan. Tren ini masih terus berjalan dan secara nyata, dapat dilihat dalam Kampanye Rakyat usungan Ahok-Djarot. 

Kaum pemuda mengekspresikan dukungan bagi pasangan Ahok-Djarot dalam cara yang beragam. Selain menjadi relawan dalam penggalangan dana, pemuda juga mengekspresikan dukungannya dengan membentuk gerakan dan komunitas. Kaum pemuda juga berpartisipasi dengan patungan untuk kampanye pasangan Ahok-Djarot. 

Adapun, rentang besaran bantuan dana yang diberikan yang dimulai dari angka Rp 10.000 membuka partisipasi yang lebih inklusif. Kampanye Rakyat menjadi bukti bahwa semua orang, termasuk kaum muda memiliki tempat yang besar dalam demokrasi di kota Jakarta.