Mengubah Paradigma Kampanye di Indonesia

Perjalanan Basuki Mengubah Paradigma Kampanye di Indonesia
 

Sosok Calon Gubernur Petahana Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menjadi pembuka babak baru dalam dunia perpolitikan Indonesia. Sejak mencalonkan diri menjadi calon Bupati Belitung Timur pada tahun 2005, Basuki membangun sistem politik yang mendidik dan mengajak pemilih lebih cerdas dalam menggunakan hak pilihnya. Basuki dengan tegas menolak semua perilaku korup saat mengikuti sebuah pesta demokrasi. Ia secara konsisten tidak memberikan apa pun kepada konstituennya kecuali kartu nama yang berisi nomor ponsel pribadinya.

Ini sudah saya mulai sejak 2005 sebetulnya, waktu saya calon bupati. Tapi waktu itu nekatnya masih beda. Jadi tahun 2005 saya coret semua jadwal kampanye dari KPUD. Buat apa dari jam 8 sampai jam 4 sore bawa-bawa orang yang harus dibayarin. Saya tidak bagi baju, tidak ada (pembagian) sembako, tidak ada baksos. Hanya kartu nama dan kalender. Kalau mau pilih, pilih,” ujar Ahok dalam sebuah wawancara dengan sebuah stasiun berita nasional.

Ahok berhasil menjadi anggota DPR, bupati dan wakil gubernur tanpa mengeluarkan uang sepeser pun untuk menyuap dengan maksud mempengaruhi suara pemilih. Ahok menceritakan, “Begitu saya masuk DPR RI, masih sama. Tidak bagi baju, hanya kartu nama. Begitu masuk 2012 dengan Pak Jokowi, nyali saya naik sedikit. Tidak bagi baju, tapi baju kotak-kotak harus dibeli. Begitu masuk 2014, saya tidak ikut campur pilpres. Begitu masuk pengumpulan KTP Teman Ahok, saya bilang bikin festival. Jualan tiket (seharga) 35 ribu (rupiah). Nanti foto sama saya, orang bayar 35 ribu. Sekarang kita nyalinya mulai naik lagi. Kita udah mulai jual tiket. Ada satu tiket, duduk makan sama saya 25 juta, dibeli orang juga.”

Ketegasan Ahok menempuh politik tanpa suap dimulai dengan awal yang pahit dan jalan yang terjal. Akan tetapi, seiring waktu berjalan, ia menjadi pemimpin yang dikagumi banyak orang. Ahok telah membuktikan bahwa uang tidak menjadi satu-satunya cara untuk memenangkan hati rakyat. Strategi Ahok adalah untuk menawarkan kualitas dan pengabdian yang tidak tanggung-tanggung yang disertai dengan bukti nyata.

"Buat saya, saya bisa membuktikan bahwa kalau Anda betul-betul menunjukkan karakter yang teruji, jujur, kerja tidak terima suap, tidak berpihak, sebetulnya rakyat akan mendukung Anda. Keluar uang pun dia rela. Karena ini kan menjaga uang dia. Menjaga kehidupan anak-cucu dia. Kita bisa bayangkan kalau ini berhasil, maka Pilkada serentak di 2018 ini akan membangkitkan Ahok-Ahok, Basuki-Basuki baru, yang teruji, berani. Bahkan teknik penganggaran, teknik kerja, visi, misi, program, strategi, kebijakan, saya punya. Tinggal copy saja,” ujar Ahok.

Saya bisa membuktikan bahwa kalau Anda betul-betul menunjukkan karakter yang teruji, jujur, kerja tidak terima suap, tidak berpihak, sebetulnya rakyat akan mendukung Anda. Keluar uang pun dia rela.

Dalam perjalanannya bersama Djarot Saiful Hidayat sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur pada Pilkada DKI Jakarta 2017, Ahok membuka kesempatan bagi masyarakat untuk melakukan partisipasi secara terbuka dan transparan dalam penggalangan dana bernama Kampanye Rakyat. Partisipasi publik dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik dengan melakukan donasi online maupun offline, mensosialisasikan penggalangan dana, atau berpartisipasi dalam berbagai kegiatan penggalangan dana.

Cara paling mudah adalah melalui kontribusi individu di mana per orang dapat menyumbang mulai dari Rp. 10.000,- hingga maksimal 75 juta Rupiah. Sedangkan bagi organisasi berbadan hukum, sumbangan dapat mencapai angka maksimal 750 juta Rupiah. Hal ini mengikuti ketentuan batas maksimal sumbangan yang dikeluarkan oleh KPU. Donasi dapat dilakukan via online (www.ahokdjarot.id) atau secara tunai melalui kantor cabang BCA di seluruh wilayah Indonesia.

Selain donasi, masyarakat juga dapat mensosialisasikan penggalangan dana dengan melakukan Kampanye Rakyat di lingkungannya. Dalam kegiatan ini, masyarakat dapat secara mandiri melakukan kegiatan penggalangan dana di ruang-ruang pribadinya selama tidak mengganggu ketertiban umum, setelah meregistrasi di https://ahokdjarot.id/dukung/kampanye-rakyat. Keberadaan Kampanye Rakyat ini bertujuan untuk mengedukasi warga DKI Jakarta mengenai pengumpulan dana kampanye Basuki-Djarot yang bertanggung jawab, transparan, dan partisipatif, dari rakyat dan untuk rakyat.

"Sekarang penggalangan dana kami sudah resmi dibuka. Saya ingin agar semua warga memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi sesuai kemampuannya masing-masing. Sumbangan 10 ribu Rupiah pun kami terima, yang penting tulus dan ikhlas,” kata Ahok.

Ahok juga menambahkan, “Kami ingin buktikan bahwa model kampanye yang BTP (Bersih, Transparan, dan Partisipatif - red) ini bisa dilakukan di Indonesia. Semua penggunaan dana tercatat dan bisa dipertanggungjawabkan.”