“Jongos”: Filosofi Kepemimpinan Djarot

 

Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta petahana Djarot Saiful Hidayat memiliki filosofi kepemimpinan yang ia sebut jongos. Jongos berarti pelayan - pemimpin yang digaji oleh rakyat, harusnya menempatkan diri sebagai pelayan rakyat.

"Jongos itu bisa disuruh apapun, bersihkan kali-kali, angkat sampah, benahin transportasi macet," cetus Djarot, di sela-sela blusukan Desember lalu.

Djarot bercerita bahwa mental jongos ini sudah dianutnya sejak ia terpilih sebagai Wali Kota Blitar 10 tahun silam. Selama di Blitar, ia tak sungkan bergaul dengan siapapun dan pergi ke manapun dengan motornya. Djarot pun menambahkan bahwa selama dua tahun terakhir ini, ia merasa dirinya dan Ahok memiliki prinsip kepemimpinan yang sama, yaitu menempatkan diri sebagai pelayan.

"Yang kita lakukan di sini mengubah mental betul-betul, para pemimpin yang dulu mintanya dilayani, diubah, bahwa pemimpin adalah jongosnya rakyat Jakarta, jongosnya Indonesia. Kalau ini bisa dilakukan, insya Allah negara akan cepat makmur," katanya.
Djarot juga menyinggung mengenai konsep patungan dana Kampanye Rakyat. Baginya, itu merupakan salah satu bentuk kepercayaan masyarakat yang diletakkan pada pundaknya sebagai seorang pelayan masyarakat.

“Terima kasih, alhamdulillah, ini baru sekarang terjadi kampanye, rakyat gotong royong. Luar biasa ya, ini yang perlu kita wujudkan di Jakarta, pelayan atau jongos yang jujur kita dukung dan pilih. Supaya dia tidak korupsi, yang bayari ya juragannya yaitu rakyatnya yang milih jongos-jongos," kata Djarot.